Minggu, 25 Desember 2016

FENOMENA GADGET ADDICTED YANG MENDUNIA


Apa itu gadget addict? Bisa dibilang itu fenomena budaya perbudakan oleh gadget. Jangan dikira manusia, terutama anak-anak dan remaja yang mengendalikan gadget, tapi gadget lah yang kini berbalik mengendalikan hidup, mengendalikan waktu, konsentrasi, kesehatan, bahkan terkadang mengendalikan keselamatan jiwa penggunanya. Interaksi manusia dengan gadget sudah lebih dari enam jam sehari. Studi yang didanai oleh Facebook menemukan bahwa 62% orang akan lebih dulu menyambar ponsel begitu bangun tidur, dimana 89% diantaranya akan mengutak-atik gadget nya minimal selama 15 menit terlebih dahulu sebelum benar-benar bangun dari tempat tidur. Temuan itu seolah-olah menggambarkan fenomena yang juga terjadi di Indonesia. Itu semua karena budaya ketergantungan pada gadget sudah sedemikian parah terjadi di negeri ini. Orang sekarang jauh lebih khawatir jika ketinggalan gadget, charger, atau powerbank ketimbang ketinggalan dompet.
Fenomena kecanduan ini sudah terlebih dahulu melanda negara-negara yang justru menjadi produsen gadget-gadget itu. Di Jepang fenomena ini disebut hikikouri . Akibatnya anak-anak menjadi asosial (tidak bergaul), menarik diri dari keramaian dan lebih suka menyendiri dengan gadgetnya. Anak-anak di Jepang seolah memiliki dunia sendiri yang terpisah dari orang tua, saudara dan teman-temannya. Di Korea Selatan pun sudah menerapkan pengendalian penggunaan gadget, khususnya bagi pelajar. Semua gadget dikumpulkan saat memasuki lingkungan sekolah dan kampus, baru bisa diambil jika sudah pulang. Korea Selatan juga memiliki program back to nature untuk remaja yang sudah kecanduan gadget. Ini sama seperti program terpai untuk orang-orang yang kecanduan narkoba.

Bagaimana dengan kita?
Bukannya dikendalikan, namun bisnis triliuan rupiah dari gadget ini justru semakin meluas, hingga ke anak-anak pra-sekolah. Balita umur 4-5 tahun saat ini sudah akrab dengan utak-atik game di Ipad atau Smartphone. Produsen, distributor, agen pulsa, ritel ponsel, sampai pemerintah semua mendapat keuntungan berlimpah dari pembudayaan gadget kesemua lapisan usia dan kelas masyarakat dewasa ini. Nyaris tak terbendung dan cenderung mengabaikan potensi bahaya medis dan sosial yang muncul dari dampak ketergantungan ini.
Survey SecurEnvoy di Inggris tahun 2012 menemukan bahwa 66% pengguna gadget menderita Nomophobia, yaitu ketakutan berlebihan yang muncul ketika seseorang tidak dapat menggunakan gadget, misalnya akibat kehabisan baterai, kehabisan pulsa, tidak mendapat sinyal atau ketinggalan charger.
Survey dari Lighting Research Center menunjukkan bahwa paparan lebih 2 jam dari tampilan gadget dapat menyebabkan masalah tidur karena cahaya gadget bisa menekan melatonin ( bahan kimia dalam tubuh yang mengontrol jam biologis tubuh manusia).
Menurut Irma Gustiana A, M.Psi, Psi, psikolog dari Klinik Rumah Hati, Jakarta, bila sejak usia dini anak sudah dibiarkan bermain gadget bisa memberikan pengaruh buruk bagi tumbuh kembang anak bahkan membuat anak kecanduan (addicted). “Gadget lebih banyak negatifnya jika dimainkan anak,” terang Irma.
Konsultan ahli mata di Luton & Dunstable University Hospital, Allon Barsam menyatakan bahwa anak-anak yang menatap layar gadget sepanjang hari berpotensi mengalami kerabunan lebih cepat sehingga lebih cepat membutuhkan bantuan kacamata.
Fisioterapis, Kirsten Lord menyatakan gadget bisa mengubah struktur tulang manusia. Utamanya adalah pada leher dan bahu akibat posisi kepala yang menjorok kedepan membaca gadget dalam waktu lama.
Hausnya manusia akan informasi ternyata bisa membuat orang menjadi ketergantungan, baik informasi yang penting dan yang tidak penting. Itu membuat orang menjadi berlama lama depan layar dan mengabaikan rekan rekan disekitarnya. Akibatnya orang orang kurang memiliki inisiatif untuk memulai pembicaraan, karena ada rasa segan yang muncul karena ada perasaan takut tidak ditanggapi.
Sebenarnya, ketergantungan terhadap gadget hampir sama bahayanya seperti ketergantungan terhadap obat obatan. Bahaya tersebut sudah terlihat jelas pada zaman sekarang. Banyak orang orang sudah kurang peka terhadap lingkungan sekitar. Sudah banyak orang yang telah mengabaikan orang sekitar demi suatu hal yang tidak begitu penting. Tetapi orang orang sudah tidak peduli dengan keadaan ini, seolah seolah fenomena ini merupakan hal biasa dan sepele. Suatu hal dimana ketika tahun 90’an tidak terjadi. Dimana dulu perangkat telekomunikasi membuat orang terlihat pintar dan makin produktif, sekarang adalah sebuah smartphone yang justru membuat pemakainya tidak menjadi smart. Tentu hal ini tidak bisa disepelekan.
Segala hal yang bertujuan untuk menghilangkan ketergantungan itu dimulai dari diri sendiri, karena tanpa dimulai dari diri sendiri, orang orang akan sulit membatasi diri dari gadget. Mulailah memperhatikan lingkungan sekitar, karena lingkungan sekitar adalah lawan interaksi terdekat, jangan dijauhkan. Jangan sampai para pembaca terlihat seperti orang idiot yang terus melihat gadget sampai menabrak orang ketika sedang berjalan.
Berinteraksi dengan orang sekitar jauh lebih penting ketimbang berinteraksi dengan orang jauh didepan layar secara terus menerus, karena kita berada didunia nyata, bukan dunia digital. Dan dengan lebih seringnya kita berinteraksi secara langsung dengan dunia luar akan membantu mengurangi para pengguna untuk tidak mengalami Nomophobia dan dapat meningkatkan produktivitas manusia agar lebih baik lagi.


Sumber-sumber :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar