Selasa, 26 September 2017

KREATIVITAS DAN KEBERBAKATAN


KREATIVITAS

Pengertian Kreativitas
Menurut Barron (dalam Ali & Asrori, 2006), mendefinisikan kreativitas
adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru.
Lalu menurut Drevdahl (dalam Hurlock, 1978), mendefinisikan kreativitas
sebagai berikut:
“Kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menghasilkan komposisi, produk, atau gagasan apa saja yang pada dasarnya baru, dan sebelumnya tidak dikenal pembuatnya. Ia dapat berupa kegiatan imajinatif atau sintesis pemikiran yang hasilnya bukan hanya perangkuman. Ia mungkin mencakup pembentukan pola baru dan gabungan informasi yang diperoleh dari pengalaman sebelumnya dan pencangkokan hubungan lama ke situasi baru dan mungkin mencakup pembentukan korelasi baru. Ia harus mempunyai maksud atau tujuan yang ditentukan, bukan fantasi semata, walaupun merupakan hasil yang sempurna dan lengkap. Ia mungkin dapat membentuk produk seni, kesusastraan, produk ilmiah, atau mungkin bersifat prosedural atau metodologis.”
Kemudian menurut Guilford (dalam Ali & Asrori, 2006), menyatakan bahwa kreativitas mengacu pada kemampuan yang menandai ciri-ciri seorang kreatif. Lebih lanjut Guilford mengemukakan dua cara berpikir, yaitu cara berpikir konvergen dan divergen. Cara berpikir konvergen adalah cara-cara individu dalam memikirkan sesuatu dengan berpandangan bahwa hanya ada satu jawaban yang benar. Sedangkan cara berpikir divergen adalah kemampuan individu yang mencari berbagai alternatif jawaban terhadap persoalan. Dalam kaitannya dengan kreativitas, Guilford menekankan bahwa orang-orang kreatif lebih banyak memiliki cara-cara berpikir divergen daripada konvergen.
Menurut Solso, Maclin & Maclin (2007), memberi definisi kreativitas sebagai suatu aktivitas kognitif yang menghasilkan suatu pandangan yang baru mengenai suatu bentuk permasalahan dan tidak dibatasi pada hasil yang pragmatis (selalu dipandang menurut penggunaannya).
Sedangkan menurut Torrance (dalam Ali & Asrori, 2006), mendefinisikan kreativitas sebagai proses kemampuan memahami kesenjangan-kesenjangan atau hambatan-hambatan dalam hidupnya, merumuskan hipotesis-hipotesis baru, dan mengkomunikasikan hasil-hasilnya, serta sedapat mungkin memodifikasi dan menguji hipotesis-hipotesis yang telah dirumuskan.
Dan menurut Munandar (1999), mendefinisikan kreativitas sebagai suatu proses yang tercermin dari kelancaran, fleksibilitas, dan orisinalitas dalam berpikir.
Berdasarkan definisi yang telah dipaparkan oleh beberapa para ahli, maka dapat disimpulkan bahwa definisikreativitas adalah kemampuan menghasilkan
suatu gagasan dengan berbagai macam alternatif dan beberapa proses
kreatif yang didukung oleh lingkungan sekitar.


KEBERBAKATAN

Pengertian Keberbakatan
Menurut Santrock (2009), keberbakatan adalah seseorang yang biasanya memiliki IQ tinggi (biasanya didefinisikan memiliki IQ 130 atau lebih tinggi) dan/atau memiliki bakat yang luar biasa dalam beberapa bidang, seperti seni, atau matematika.
Lalu menurut Renzulli (2002), keberbakatan merupakan interaksi antara kemampuan umum dan/atau spesifik, tingkat tanggung jawab terhadap tugas yang tinggi dan tingkat kreativitas yang tinggi.
Sedangkan menurut Clark (1986), keberbakatan adalah ciri-ciri universal yang khusus dan luar biasa, yang dibawa sejak lahir dan merupakan hasil interaksi dari pengaruh lingkungan. Keberbakatan ikut ditentukan oleh kebutuhan dan kecenderungan kebudayaan dimana seseorang yang berbakat itu hidup.
Berdasarkan penjelasan definisi dari beberapa ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa keberbakatan adalah kemampuan yang merupakan sesuatu yang melekat (inherent) dalam diri seseorang, merupakan bawaan sejak lahir dan terkait dengan struktur otak.  Anak-anak berbakat akan dapat berkembang secara optimal, manakala mereka mendapatkan pengalaman yang cukup dan memadai melalui program pendidikan yang sesuai dengan potensi anak.


HUBUNGAN ANTARA KREATIVITAS DAN KEBERBAKATAN

Konsepsi “Three-Ring Conception” dari Renzulli dan kawan-kawan (1986), yang menyatakan bahwa tiga ciri pokok yang merupakan kriteria (persyaratan) keberbakatan ialah keterkaitan antara:
1.    Kemampuan umum di atas rata-rata
Salah satu kesalahan dalam identifikasi anak berbakat ialah anggapan bahwa hanya kecerdasan dan kecakapan sebagaimana diukur dengan tes prestasi belajar yang menentukan keberbakatan dan produktivitas kreatif seseorang. Bahkan Terman (1959) yang dalam penelitiannya terhadap anak berbakat hanya menggunakan kriteria inteligen, dalam tulisan-tulisannya kemudian mengakui bahwa inteligensi tinggi tidak sinonim dengan keberbakatan. Wallach (1976) pun menunjukkan bahwa mencapai skor tertinggi pada tes akademis belum tentu mencerminkan potensi untuk kinerja kreatif produktif.
Dalam istilah “kemampuan umum” tercakup barbagai bidang kemampuan yang biasanya diukur oleh tes inteligensi, prestasi, bakat, kemampuan, mental primer, dan berpikir kreatif. Sebagai contoh adalah penalaran, verbal numerical, kemampuan spasial, kelancaran dalam memberikan ide, dan orisinalitas. Kemampuan umum ini merupakan salah atu kelompok keberbakatan di samping kreativitas dan “task-commitment”.
2.    Kreativitas di atas rata-rata
Kelompok (cluster) kedua yang dimiliki anak/orang berbakat ialah kreativitas sebagai kemampuan umum untuk menciptakan sesuatu yang baru, sebagai kemampuan memberikan gagasan-gagasan baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan masalah, atau sebagai kemampuan untuk  melihat hubungan-hubungan baru antara unsur-unsur yang sudah ada sebelumnya.
3.    Pengikatan diri terhadap tugas (task-commitment cukup tinggi)
Kelompok karakteristik yang ketiga yang ditemukan pada individu yang kreatif produktif ialah pengikatan diri terhadap tugas sebagai bentuk motivasi yang internal yang mendorong seseorang untuk tekun dan ulet mengerjakan tugasnya, meskipun mengalami macam-macam rintangan atau hambatan, menyelesaikan tugas yang menjadi tanggung jawabnya, karena ia telah mengikatkan diri terhadap tugas tersebut atas kehendaknya sendiri.
Galton meskipun menganut pandangan dasar genetis untuk keberbakatan dan “genius”, namun dia percaya bahwa motivasi intrinsik dan kapasitas untuk bekerja keras merupakan kondisi yang perlu untuk mencapai prestasi unggul.
Manfaat dari definisi Renzulli ialah melihat keterkaitan antara tiga kelompok ciri sebagai persyaratan keberbakatan: kemampuan umum, kreativitas, dan motivasi (pengikatan diri terhadap tugas).
Jadi, menurut definisi Renzulli, seseorang yang memiliki kreativitas pasti berbakat, tetapi seseorang yang berbakat belum tentu memiliki kreativitas.


MANFAAT DARI PEMBELAJARAN KREATIVITAS DAN KEBERBAKATAN BAGI MAHASISWA 

Cukup banyak manfaat yang dapat diperoleh dari pembelajaran kreativitas dan keberbakatan bagi mahasiswa, beberapa diantaranya sebagai berikut:
  • Untuk mengetahui bagaimana definisi kreativitas menurut para ahli yang dapat kita simpulkan menurut kita sendiri.
  • Untuk mengetahui bagaimana definisi keberbakatan menurut para ahli dan dapat kita simpulkan menurut kita sendiri.
  • Untuk mengetahui hubungan antara kreativitas dan keberbakatan dan bagaimana diantara keduanya dapat saling terkait satu sama lain.
  • Untuk mengetahui bagaimana perbedaan antara kreativitas dan keberbakatan.


BAKAT PERSONAL YANG DIMILIKI

Berbicara tentang bakat yang dimiliki seseorang tentu banyak sekali bakat diluar sana yang beraneka ragam, seperti menyanyi, pemain gitar yang handal, dan lain sebagainya. Tetapi berbicara mengenai bakat yang dimiliki masing-masing orang terutama saya. Menurut saya, saya belum menemukan atau mungkin lebih tepatnya belum menyadari bakat apa yang saya miliki. Karena sudah pasti Allah telah memberikan bakat yang luar biasa kepada seluruh umat-Nya. Tetapi ada beberapa faktor yang mungkin membuat saya belum menyadari bakat apa yang saya punya, salah satunya adalah tidak tersalurkan dengan benar bakat saya sejak dini.Karena semenjak kecil saya tidak pernah dimasukkan ke tempat-tempat khusus untuk menyalurkan atau mengembangkan bakat yang saya miliki. Tetapi yang saya ketahui dan saya rasa, saya memiliki bakat dalam menari karena dari kecil saya senang melihat orang-orang yang menari baik secara langsung maupun tidak. Namun, saya tidak pernah mengetahui dengan benar bagaimana teknik menari yang baik, dan lain sebagainya karena dari kecil bakat saya tidak pernah tersalurkan dengan benar. Bukan karena orang tua yang tidak mendukung bakat saya, tetapi saya yang terlalu banyak berpikir dan malas karena takut waktu saya terbuang sia-sia. Tetapi, semakin saya beranjak remaja keinginan saya untuk menjadi dancer tidak hilang begitu saja. Keinginan saya terus bertambah setelah saya mengenal K-Pop, yang sudah banyak diketahui memiliki potensi dance yang bagus ditunjang penampilan dan suara yang bagus pula. Akhirnya dari sinilah saya tertarik untuk menantang diri saya dengan meng-cover dance K-Pop yang menjadi tugas Kreativitas dan Keberbakatan.



Sumber:
Ali, M& Asrori, M. 2006. Psikologi Remaja, Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Bumi Aksara.
Clark, B. 1986. Growing up gited : developing the potential of Children at home and at school / Columbus. OH: Merril.
Hurlock. 1978. Perkembangan Anak. Jakarta: Ganeca Exact.
Munandar, U. 1999. Kreativitas dan Keberbakatan: Strategi Mewujudkan Potensi Kreatif dan Bakat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Renzulli, J. 1986. The Three-Ring Conception of Giftedaness: A Developmental Model for Creative Productivity. In R. J. Sternberg and J. E. Davidson (eds), Conceptions of Giftedaness (pp. 53-92). New York: Cambridge University Press.
Renzulli, J. S. 2002. Expanding the Conception of Giftedness to Include Co-Cognitive Traits and to Promote Social Capital. Phi Delta Kappan, 84(1), 33-58.
Santrock, J. W. 2009. Perkembangan Anak. Edisi 11. Jakarta: Erlangga.
Solso, R. L., Maclin, O. H., &Maclin, M. K. 2007. Psikologi Kognitif. Jakarta: Erlangga.