KREATIVITAS
Pengertian Kreativitas
Menurut
Barron (dalam Ali & Asrori, 2006), mendefinisikan kreativitas
adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru.
adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru.
Lalu
menurut Drevdahl (dalam Hurlock, 1978), mendefinisikan kreativitas
sebagai berikut:
sebagai berikut:
“Kreativitas
adalah kemampuan seseorang untuk menghasilkan komposisi, produk, atau gagasan apa saja yang pada dasarnya baru, dan sebelumnya tidak dikenal pembuatnya. Ia dapat berupa kegiatan imajinatif atau sintesis pemikiran yang hasilnya bukan hanya perangkuman. Ia mungkin mencakup pembentukan pola baru dan gabungan informasi yang diperoleh dari pengalaman sebelumnya dan pencangkokan hubungan lama ke situasi baru dan mungkin mencakup pembentukan korelasi baru. Ia harus mempunyai maksud atau tujuan yang ditentukan, bukan fantasi semata, walaupun merupakan hasil yang sempurna dan lengkap. Ia mungkin dapat membentuk produk seni, kesusastraan, produk ilmiah, atau mungkin bersifat prosedural atau metodologis.”
Kemudian
menurut Guilford (dalam Ali & Asrori, 2006), menyatakan bahwa kreativitas mengacu pada kemampuan yang menandai ciri-ciri seorang kreatif. Lebih lanjut Guilford mengemukakan dua cara berpikir, yaitu cara berpikir konvergen dan divergen. Cara berpikir konvergen adalah cara-cara individu dalam memikirkan sesuatu dengan berpandangan bahwa hanya ada satu jawaban yang benar. Sedangkan cara berpikir divergen adalah kemampuan individu yang mencari berbagai alternatif jawaban terhadap persoalan. Dalam kaitannya dengan kreativitas, Guilford menekankan
bahwa orang-orang kreatif lebih banyak memiliki cara-cara berpikir divergen daripada konvergen.
Menurut
Solso, Maclin & Maclin (2007), memberi definisi kreativitas sebagai suatu aktivitas kognitif yang menghasilkan suatu pandangan yang baru mengenai suatu bentuk permasalahan dan tidak dibatasi pada hasil yang pragmatis (selalu dipandang menurut penggunaannya).
Sedangkan
menurut Torrance (dalam Ali & Asrori, 2006), mendefinisikan kreativitas
sebagai proses kemampuan memahami kesenjangan-kesenjangan atau hambatan-hambatan
dalam hidupnya, merumuskan hipotesis-hipotesis baru, dan mengkomunikasikan
hasil-hasilnya, serta sedapat mungkin memodifikasi dan menguji hipotesis-hipotesis
yang telah dirumuskan.
Dan
menurut Munandar (1999), mendefinisikan kreativitas sebagai suatu proses yang
tercermin dari kelancaran, fleksibilitas, dan orisinalitas dalam berpikir.
Berdasarkan
definisi yang telah dipaparkan oleh beberapa para ahli, maka dapat disimpulkan
bahwa definisikreativitas adalah kemampuan menghasilkan
suatu gagasan dengan berbagai macam alternatif dan beberapa proses
kreatif yang didukung oleh lingkungan sekitar.
suatu gagasan dengan berbagai macam alternatif dan beberapa proses
kreatif yang didukung oleh lingkungan sekitar.
KEBERBAKATAN
Pengertian
Keberbakatan
Menurut Santrock (2009), keberbakatan adalah
seseorang yang biasanya memiliki IQ tinggi (biasanya didefinisikan memiliki IQ
130 atau lebih tinggi) dan/atau memiliki bakat yang luar biasa dalam beberapa
bidang, seperti seni, atau matematika.
Lalu menurut Renzulli (2002), keberbakatan
merupakan interaksi antara kemampuan umum dan/atau spesifik, tingkat tanggung
jawab terhadap tugas yang tinggi dan tingkat kreativitas yang tinggi.
Sedangkan menurut Clark (1986), keberbakatan
adalah ciri-ciri universal yang khusus dan luar biasa, yang dibawa sejak lahir
dan merupakan hasil interaksi dari pengaruh lingkungan. Keberbakatan ikut
ditentukan oleh kebutuhan dan kecenderungan kebudayaan dimana seseorang yang
berbakat itu hidup.
Berdasarkan penjelasan definisi dari beberapa
ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa keberbakatan adalah kemampuan yang merupakan
sesuatu yang melekat (inherent) dalam diri seseorang, merupakan bawaan sejak
lahir dan terkait dengan struktur otak.
Anak-anak berbakat akan dapat berkembang secara optimal, manakala mereka
mendapatkan pengalaman yang cukup dan memadai melalui program pendidikan yang
sesuai dengan potensi anak.
HUBUNGAN
ANTARA KREATIVITAS DAN KEBERBAKATAN
Konsepsi “Three-Ring
Conception” dari Renzulli dan kawan-kawan (1986), yang menyatakan bahwa
tiga ciri pokok yang merupakan kriteria (persyaratan) keberbakatan ialah
keterkaitan antara:
1. Kemampuan
umum di atas rata-rata
Salah satu kesalahan dalam
identifikasi anak berbakat ialah anggapan bahwa hanya kecerdasan dan kecakapan
sebagaimana diukur dengan tes prestasi belajar yang menentukan keberbakatan dan
produktivitas kreatif seseorang. Bahkan Terman (1959) yang dalam penelitiannya
terhadap anak berbakat hanya menggunakan kriteria inteligen, dalam tulisan-tulisannya
kemudian mengakui bahwa inteligensi tinggi tidak sinonim dengan keberbakatan.
Wallach (1976) pun menunjukkan bahwa mencapai skor tertinggi pada tes akademis
belum tentu mencerminkan potensi untuk kinerja kreatif produktif.
Dalam istilah “kemampuan
umum” tercakup barbagai bidang kemampuan yang biasanya diukur oleh tes
inteligensi, prestasi, bakat, kemampuan, mental primer, dan berpikir kreatif.
Sebagai contoh adalah penalaran, verbal
numerical, kemampuan spasial, kelancaran dalam memberikan ide, dan
orisinalitas. Kemampuan umum ini merupakan salah atu kelompok keberbakatan di samping
kreativitas dan “task-commitment”.
2. Kreativitas
di atas rata-rata
Kelompok (cluster) kedua yang dimiliki anak/orang
berbakat ialah kreativitas sebagai kemampuan umum untuk menciptakan sesuatu
yang baru, sebagai kemampuan memberikan gagasan-gagasan baru yang dapat diterapkan
dalam pemecahan masalah, atau sebagai kemampuan untuk melihat hubungan-hubungan baru antara unsur-unsur
yang sudah ada sebelumnya.
3. Pengikatan
diri terhadap tugas (task-commitment
cukup tinggi)
Kelompok karakteristik yang ketiga yang
ditemukan pada individu yang kreatif produktif ialah pengikatan diri terhadap
tugas sebagai bentuk motivasi yang internal yang mendorong seseorang untuk
tekun dan ulet mengerjakan tugasnya, meskipun mengalami macam-macam rintangan
atau hambatan, menyelesaikan tugas yang menjadi tanggung jawabnya, karena ia
telah mengikatkan diri terhadap tugas tersebut atas kehendaknya sendiri.
Galton meskipun menganut pandangan dasar
genetis untuk keberbakatan dan “genius”, namun dia percaya bahwa motivasi
intrinsik dan kapasitas untuk bekerja keras merupakan kondisi yang perlu untuk
mencapai prestasi unggul.
Manfaat dari definisi Renzulli ialah melihat
keterkaitan antara tiga kelompok ciri sebagai persyaratan keberbakatan:
kemampuan umum, kreativitas, dan motivasi (pengikatan diri terhadap tugas).
Jadi, menurut definisi Renzulli, seseorang
yang memiliki kreativitas pasti berbakat, tetapi seseorang yang berbakat belum
tentu memiliki kreativitas.
MANFAAT
DARI PEMBELAJARAN KREATIVITAS DAN KEBERBAKATAN BAGI MAHASISWA
Cukup banyak manfaat yang dapat diperoleh
dari pembelajaran kreativitas dan keberbakatan bagi mahasiswa, beberapa
diantaranya sebagai berikut:
- Untuk mengetahui bagaimana definisi kreativitas menurut para ahli yang dapat kita simpulkan menurut kita sendiri.
- Untuk mengetahui bagaimana definisi keberbakatan menurut para ahli dan dapat kita simpulkan menurut kita sendiri.
- Untuk mengetahui hubungan antara kreativitas dan keberbakatan dan bagaimana diantara keduanya dapat saling terkait satu sama lain.
- Untuk mengetahui bagaimana perbedaan antara kreativitas dan keberbakatan.
BAKAT
PERSONAL YANG DIMILIKI
Berbicara tentang bakat yang dimiliki
seseorang tentu banyak sekali bakat diluar sana yang beraneka ragam, seperti
menyanyi, pemain gitar yang handal, dan lain sebagainya. Tetapi berbicara
mengenai bakat yang dimiliki masing-masing orang terutama saya. Menurut saya,
saya belum menemukan atau mungkin lebih tepatnya belum menyadari bakat apa yang
saya miliki. Karena sudah pasti Allah telah memberikan bakat yang luar biasa
kepada seluruh umat-Nya. Tetapi ada beberapa faktor yang mungkin membuat saya
belum menyadari bakat apa yang saya punya, salah satunya adalah tidak
tersalurkan dengan benar bakat saya sejak dini.Karena semenjak kecil saya tidak
pernah dimasukkan ke tempat-tempat khusus untuk menyalurkan atau mengembangkan
bakat yang saya miliki. Tetapi yang saya ketahui dan saya rasa, saya memiliki
bakat dalam menari karena dari kecil saya senang melihat orang-orang yang
menari baik secara langsung maupun tidak. Namun, saya tidak pernah mengetahui
dengan benar bagaimana teknik menari yang baik, dan lain sebagainya karena dari
kecil bakat saya tidak pernah tersalurkan dengan benar. Bukan karena orang tua
yang tidak mendukung bakat saya, tetapi saya yang terlalu banyak berpikir dan
malas karena takut waktu saya terbuang sia-sia. Tetapi, semakin saya beranjak
remaja keinginan saya untuk menjadi dancer tidak hilang begitu saja. Keinginan
saya terus bertambah setelah saya mengenal K-Pop, yang sudah banyak diketahui
memiliki potensi dance yang bagus ditunjang penampilan dan suara yang bagus
pula. Akhirnya dari sinilah saya tertarik untuk menantang diri saya dengan
meng-cover dance K-Pop yang menjadi tugas Kreativitas dan Keberbakatan.
Sumber:
Ali, M& Asrori, M. 2006. Psikologi Remaja, Perkembangan Peserta Didik.
Jakarta: Bumi Aksara.
Clark, B. 1986. Growing up gited : developing the potential
of Children at home and at school / Columbus. OH: Merril.
Hurlock. 1978. Perkembangan Anak. Jakarta: Ganeca Exact.
Munandar, U. 1999. Kreativitas dan Keberbakatan: Strategi Mewujudkan Potensi Kreatif dan
Bakat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Renzulli, J. 1986. The Three-Ring Conception of Giftedaness: A Developmental Model for
Creative Productivity. In R. J. Sternberg and J. E. Davidson (eds), Conceptions
of Giftedaness (pp. 53-92). New York: Cambridge University Press.
Renzulli, J. S. 2002. Expanding the Conception of Giftedness to Include Co-Cognitive Traits
and to Promote Social Capital. Phi Delta Kappan, 84(1), 33-58.
Santrock, J. W. 2009. Perkembangan Anak. Edisi 11. Jakarta: Erlangga.
Solso, R. L., Maclin, O. H., &Maclin, M.
K. 2007. Psikologi Kognitif. Jakarta:
Erlangga.