Apa itu gadget addict?
Bisa dibilang itu fenomena budaya perbudakan oleh gadget. Jangan dikira
manusia, terutama anak-anak dan remaja yang mengendalikan gadget, tapi gadget
lah yang kini berbalik mengendalikan hidup, mengendalikan waktu, konsentrasi, kesehatan,
bahkan terkadang mengendalikan keselamatan jiwa penggunanya. Interaksi manusia
dengan gadget sudah lebih dari enam jam sehari. Studi yang didanai oleh
Facebook menemukan bahwa 62% orang akan lebih dulu menyambar ponsel begitu
bangun tidur, dimana 89% diantaranya akan mengutak-atik gadget nya minimal
selama 15 menit terlebih dahulu sebelum benar-benar bangun dari tempat tidur.
Temuan itu seolah-olah menggambarkan fenomena yang juga terjadi di Indonesia.
Itu semua karena budaya ketergantungan pada gadget sudah sedemikian parah
terjadi di negeri ini. Orang sekarang jauh lebih khawatir jika ketinggalan
gadget, charger, atau powerbank ketimbang ketinggalan dompet.
Fenomena kecanduan ini sudah terlebih dahulu melanda
negara-negara yang justru menjadi produsen gadget-gadget itu. Di Jepang
fenomena ini disebut hikikouri .
Akibatnya anak-anak menjadi asosial (tidak bergaul), menarik diri dari
keramaian dan lebih suka menyendiri dengan gadgetnya. Anak-anak di Jepang
seolah memiliki dunia sendiri yang terpisah dari orang tua, saudara dan
teman-temannya. Di Korea Selatan pun sudah menerapkan pengendalian penggunaan
gadget, khususnya bagi pelajar. Semua gadget dikumpulkan saat memasuki
lingkungan sekolah dan kampus, baru bisa diambil jika sudah pulang. Korea Selatan
juga memiliki program back to nature
untuk remaja yang sudah kecanduan gadget. Ini sama seperti program terpai untuk
orang-orang yang kecanduan narkoba.
Bukannya dikendalikan, namun bisnis triliuan rupiah dari
gadget ini justru semakin meluas, hingga ke anak-anak pra-sekolah. Balita umur
4-5 tahun saat ini sudah akrab dengan utak-atik game di Ipad atau Smartphone. Produsen, distributor, agen
pulsa, ritel ponsel, sampai pemerintah semua mendapat keuntungan berlimpah dari
pembudayaan gadget kesemua lapisan usia dan kelas masyarakat dewasa ini. Nyaris
tak terbendung dan cenderung mengabaikan potensi bahaya medis dan sosial yang
muncul dari dampak ketergantungan ini.
Survey SecurEnvoy
di Inggris tahun 2012 menemukan bahwa 66% pengguna gadget menderita Nomophobia,
yaitu ketakutan berlebihan yang muncul ketika seseorang tidak dapat menggunakan
gadget, misalnya akibat kehabisan baterai, kehabisan pulsa, tidak mendapat
sinyal atau ketinggalan charger.
Survey dari Lighting
Research Center menunjukkan bahwa paparan lebih 2 jam dari tampilan gadget
dapat menyebabkan masalah tidur karena cahaya gadget bisa menekan melatonin (
bahan kimia dalam tubuh yang mengontrol jam biologis tubuh manusia).
Menurut Irma Gustiana A, M.Psi, Psi, psikolog dari Klinik
Rumah Hati, Jakarta, bila sejak usia dini anak sudah dibiarkan bermain gadget
bisa memberikan pengaruh buruk bagi tumbuh kembang anak bahkan membuat anak
kecanduan (addicted). “Gadget lebih banyak negatifnya jika dimainkan anak,”
terang Irma.
Konsultan ahli mata di Luton & Dunstable University
Hospital, Allon Barsam menyatakan bahwa anak-anak yang menatap layar gadget
sepanjang hari berpotensi mengalami kerabunan lebih cepat sehingga lebih cepat
membutuhkan bantuan kacamata.
Fisioterapis, Kirsten Lord menyatakan gadget bisa mengubah
struktur tulang manusia. Utamanya adalah pada leher dan bahu akibat posisi
kepala yang menjorok kedepan membaca gadget dalam waktu lama.
Hausnya manusia akan informasi ternyata bisa membuat orang
menjadi ketergantungan, baik informasi yang penting dan yang tidak penting. Itu
membuat orang menjadi berlama lama depan layar dan mengabaikan rekan rekan
disekitarnya. Akibatnya orang orang kurang memiliki inisiatif untuk memulai pembicaraan,
karena ada rasa segan yang muncul karena ada perasaan takut tidak ditanggapi.
Sebenarnya, ketergantungan terhadap gadget hampir sama
bahayanya seperti ketergantungan terhadap obat obatan. Bahaya tersebut sudah
terlihat jelas pada zaman sekarang. Banyak orang orang sudah kurang peka
terhadap lingkungan sekitar. Sudah banyak orang yang telah mengabaikan orang
sekitar demi suatu hal yang tidak begitu penting. Tetapi orang orang sudah
tidak peduli dengan keadaan ini, seolah seolah fenomena ini merupakan hal biasa
dan sepele. Suatu hal dimana ketika tahun 90’an tidak terjadi. Dimana dulu
perangkat telekomunikasi membuat orang terlihat pintar dan makin produktif,
sekarang adalah sebuah smartphone yang justru membuat pemakainya tidak menjadi
smart. Tentu hal ini tidak bisa disepelekan.
Segala hal yang bertujuan untuk menghilangkan ketergantungan
itu dimulai dari diri sendiri, karena tanpa dimulai dari diri sendiri, orang
orang akan sulit membatasi diri dari gadget. Mulailah memperhatikan lingkungan
sekitar, karena lingkungan sekitar adalah lawan interaksi terdekat, jangan
dijauhkan. Jangan sampai para pembaca terlihat seperti orang idiot yang terus
melihat gadget sampai menabrak orang ketika sedang berjalan.
Berinteraksi dengan orang sekitar jauh lebih penting
ketimbang berinteraksi dengan orang jauh didepan layar secara terus menerus,
karena kita berada didunia nyata, bukan dunia digital. Dan dengan lebih
seringnya kita berinteraksi secara langsung dengan dunia luar akan membantu
mengurangi para pengguna untuk tidak mengalami Nomophobia dan dapat
meningkatkan produktivitas manusia agar lebih baik lagi.
Sumber-sumber :